MENU

Minggu, 18 Desember 2011

Hobi membaca kang Asmu


Ada satu hal yang paling disukai Kang Asmu saat menginjak kelas 3 SD yakni membaca. Kemampuan membaca yang cepat dan lancar membuatnya doyan bergelut dengan banyak buku yang dipinjamnya dari sekolah. Kegemaran membaca ini semakin tersalurkan ketika dikelas 3 mulai banyak buku cerita dan sejarah, tiap hari selalu membaca, membaca dan membaca. Rasanya karena hal inilah yang akan membawanya sebagai anak yang kemampuan mengingat sejarah termasuk yang terbaik dikelas dan membuat Ibu Suraini. K guru kelasnya di kelas 4 tidak percaya ketika pada suatu hari Kang Asmu mendapatkan nilai sempurna pelajaran sejarah bahkan sampai dipanggil kedepan kelas untuk bertanya tentang sejarah karena tidak percaya namun akhirnya beliau mempercayainya saja dan terbukti hasil sempurna itu murni.
Kegemaran membaca ini sayangnya hanya mengerucut kebacaan yang menampilkan kisah, cerita, dongeng ataupun biografi tokoh. Alhasil untuk hal-hal yang menjurus kehitungan kang Asmu tergolong yang paling lemah.
Pernah suatu hari dia diperintahkan maju mengerjakan soal hitungan kedepan kelas dan semua mata memperhatikannya. Sudah 3 temannya maju mengerjakan soal yang sama dan kini ketiganya berdiri disamping papan tulis berwarna hitam dengan memegang telinga dan kaki diangkat sebelah. Kang Asmu maju dengan tenang, Nuruddin temannya memperlihatkan jawabannya saat dia berjalan perlahan kedepan. Sekilas memang namun kang Asmu terlihat maju dengan melirik ke arah tiga teman yang berdiri disamping papan tulis itu dan membatin " Hehe aku ga berminat bergabung dengan kalian". Bu Suriani K gurunya memberikan kapur tulis yang tinggal secuil itu membuat kang Asmu berfikir, karena jawabannya pendek n singkat tentu kapur tulisnya juga pendek. Selamat, pikirnya dengan senyum penuh percaya diri.
Entah bagaimana ceritanya, 5 detik setelah menggoreskan kapur tulis itu tepukan penggaris kayu mendarat dipantat kang Asmu dan itu menandakan bahwa dia menjadi penghuni baru tempat paling memalukan didunia yakni sebelah papan tulis hitam berdebu kapur serta bergabung dengan ketiga temannya yang bersamaan mendehem dengan penuh aroma ejekan. Kang Asmu memandang tidak percaya bahwa jawabannya di salahkan padahal itu persis seperti jawaban yang Nuruddin tulis dan ternyata jawabannya sama dengan yang dituliskan oleh bu Suriani. Jelas saja ini membuat Kang Asmu bingung dan lebih bingung lagi saat ditanya darimana asal jawabannya itu.
" Jawabannya memang benar tapi caranya yang salah.." itu yang Bu Suriani katakan.
" Harus ada langkah-langkahnya atau prosesnya, dari mana muncul jawabannya..?" lanjut Bu Suriani.
" soal ini bukan tebak-tebakan, yang ibu minta itu kalian mengerti cara mengerjakannya." masih lanjutan dari Bu Suriani. 
Kejadian itu hanya salah satu dari beberapa kejadian yang menyimpulkan bahwa dia lemah dengan hitungan.
Kemampuan membaca dan mengingat yang dimiliki oleh dia kerap membantunya percaya diri dalam berbagai hal. Sore hari saat di pesantren Asmu hanya membutuhkan beberapa saat untuk menghafalkan si'ir-si'ir kitab dan maju didepan untuk memperlihatkan hafalannya disamping para guru ngaji.
Waktu bermainnya serasa makin berkurang, siang hari usai pulang sekolah buku sudah menemaninya bahkan saat makanpun dia tetap membaca.
" mengko ae mocone As, saiki mangan disek..( nanti aja bacanya As, sekarang makan dulu!) " perintah Ibu Fat padanya namun buru-buru dia berdalih.
" Biar ae mak, jadi makanan masuk ilmu pun masuk.." Kata Asmu berdalih.
Kebiasaannya yang suka membaca ini kadang disalahgunakan. Ulik, anak jalur tengah dan kelas 5 menyukai cak Sokeh, kakaknya Asmu itu selalu menitipkan surat-surat cintanya pada Asmu untuk disampaikan pada kakaknya. Siang sambil menunggu cak Sokeh pulang dari SMP, iseng dibukanya surat dari Ulik itu dibelakang rumah, setelah membacanya Asmu senyum-senyum. Selalu begitu hingga suatu hari saat dititipi surat, Ulik tampak tersedu dengan wajah sembab, Asmu ga perduli dan usai pulangan dia berlari kebelakang rumah dan membuka suratnya Ulik. Betapa kagetnya dia saat kertas itu berbau amis dan saat terbuka ada gambar buah hati dengan darah. Wahh, cintanya Ulik sungguh besar sampai jempolnya itu dikorbankan untuk jelaskan bahwa aliran darahnya itu pun juga menjadi bukti cintanya. Memang saat menyerahkan surat itu Asmu melihat jempolnya Ulik dilingkari oleh hansaplast. Asmu tidak tau apa yang terjadi pada hubungan antara cak Sokeh dengan Ulik karena memang dia tidak ambil pusing, yang penting hobi membacanya tersalurkan saja dan yang pasti Asmu tidak pernah melihat mereka berdua bertemu secara khusus.

Jumat, 25 November 2011

Ga Perlu Marah Bung...

Malam ini kembali kang Asmu berbicara dihadapan Geng Percil dan masalahnya adalah kesabaran dalam menghadapi berbagai masalah dan orang yang belum mengerti tentang islam. Masalah ini dipilih karena di televisi lagi musimnya berita anarki yang berawal dari permasalahan yang diselesaikan dengan cara-cara yang kasar. Mulai dari kaum terpelajar, kaum buruh dan lainnya selalu mengedepankan amarah dalam menyelesaikan suatu masalah. Oleh karena itu Kang Asmu tidak ingin Geng Percil kelak menjadi seperti itu. Sambil duduk di hadapan anak-anak, Kang Asmu bercerita tentang hadist yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim.
Saat itu Rasulullah Saw dan para sahabat berkumpul seusai sholat berjamaah, tiba-tiba saja datang seorang lelaki badui ( wong Ndeso, jika kita comot ucapannya tukul) menuju kedalam masjid tanpa permisi. Dasarnya orang badui yang memang kebanyakan emang tidak tahu apa-apa tentang thaharah atau bersuci, badui itu lansung aja kencing di masjid.
Melihat hal itu karuan saja para sahabat bangkit dan hendak memburunya. Bahkan ada yang saking marahnya melihat itu sampai menghunus pedangnya dan diantaranya adalah Umar bin Khattab. Namun, dengan cekatan Rasulullah segera bereaksi mencegah para sahabat dan membiarkan lelaki badui itu menyelesaikan kencingnya.
Mengapa nabi mencegah para sahabat mengejar sang lelaki badui? Karena nabi ingin mengajarkan kesabaran kepada para sahabatnya dalam menghadapi suatu kejadian. Selain itu, jika sampai lelaki badui itu dikejar trus hajatnya belum selesai kan lebih fatal lagi akibatnya. Air kencing itu bisa tercecer kemana-mana. Setelah selesai lelaki baduy itu diberi nasehat oleh Rasulullah tentang cara-cara berthoharoh menurut islam. Dan Rasulullah pun menyuruh Umar untuk mengambil air untuk membersihkannya.
" Untuk itu, setiap masalah itu jangan main kekerasan langsung akan tetapi perlu kesabaran dan saling menasehati. barangkali orang yang salah itu belum mengerti atau salah pemahamannya. Seperti halnya ketika ada orang tersesat maka yang harus kita lakukan adalah dengan menunjukkannya jalan yang benar. iya tho? apa orang yang tersesat itu langsung kita marahi dan pukuli??" kata kang Asmu memberikan kesimpulan.

Gaji Buta Tanpa Kerja, No Way...

Wah kali ini Kang Asmu menceritakan tentang kejadian lucu namun mempunyai banyak hikmah dihadapan anak-anak Geng Percil diserambi mushola Nurul Ikhlas.
" Mau cerita pejabat yang mesti dicontoh ga?" Tanya Kang Asmu pada geng percil.
Mereka mengangguk menyetujui, mereka senang dengan kisah-kisah teladan dari kang Asmu, masih teringat akan kisah lucu si Firka yang berganti nama atau Abu yang lucu. Seringnya itu mereka kerap menjadikan cerita dari kang Asmu itu sebagai bahan obrolan mereka diwaktu senggang, terkadang muncul beberapa perbedaan cara mereka memahami cerita kang Asmu.
" Kisahnya nih Umar menjadi hakim agung saat Abu bakar menjadi pemimpin islam saat awal periode setelah Nabi Muhammad Saw Meninggal. Sudah setahun menjadi hakim agung Umar menemui Abu bakar untuk mengundurkan diri. "
" Kenapa kang kok mengundurkan diri?" Tanya Eko mengacungkan jari telunjuknya.
" Malu " jawab kang Asmu singkat.
" kok Malu?"
" Lho malu kenapa kang?"
" Umar merasa makan gaji buta..."
" Maksudnya apa kang?"
" Ya Umar merasa ga kerja saja karena selama dia jadi hakim tidak ada masalah atau punya perkara yang harus diselesaikan alias keadaan masyarakat aman dan tentram. "
" Jadi Umar merasa tidak kerja ya Kang?" Ujang nyeletuk.
" Betul, malu dia makan gaji buta karena dia tidak melakukan sesuatu..dia ingin uang yang didapat itu benar-benar haknya setelah melakukan kewajibannya.."kata Kang Asmu.
"Wah hebat ya..." Kata Sundari. Semuanya sepakat dengan Ndari.
" Itulah adik-adik, ketika menjadi pejabat menjadilah pejabat yang selalu mengingat Alloh, menjadi pedagang yang baik, menjadi orang yang selalu melakukan kewajibannya dengan baik kemudian baru meminta hak..."
" Umar menjadi contoh yang baik tuh..iya kan kang?" kata Dodi.
Kang Asmu mengangguk. Anak-anak bersemangat dan mengingat ini ketika sudah dewasa kelak.

Minggu, 20 November 2011

Boneng Tobat

Sangat panas sekali suasana pemakaman pak Jahal yang meninggal kemarin karena tertimpa pohon yang tumbang di hutan. Pekerjaan sebagai pencari kayu ilegal atau lebih kerennya disebut ilegal logging oleh masyarakat memang pekerjaan yang mempunyai banyak resiko. Pekerjaan ini memang menjadi pekerjaan alternatif untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga pada saat tanaman yang dikelola di ladang tidak membuahkan hasil yang menguntungkan. Suasana pemakaman yang panas terik itu dihadiri juga oleh Kang Asmu  dan si Boneng yang sepanjang perjalanan kepemakaman selalu berbelasungkawa.
" Kasihan sekali Pak Jahal itu...." katanya.
Kang Asmu menoleh heran.
" kenapa Neng?"
" Ya kasihan saja selama hidupnya kan jarang melakukan kebaikan.."
" Lho kok sampeyan tau?" 
" lha wong dia itu sering ketempat pelacuran tiap gajian, adu ayam, minuman keras bareng eh..." Ucapan boneng terputus.
" Hayo bareng sampeyan yo?" Pancing kang Asmu. Wajah Boneng memerah.
" Tapi aku jarang kok..." jawabnya polos.
" Terus...?"
" Kasihan Pak Jahal belum sempat tobat sudah meninggal "
Kang Asmu diam sejenak.
" Jika Alloh menghidupkannya kembali gimana?"
" Pastilah dia bertobat dan beramal terus"
Kang Asmu tersenyum dan berkata
" Nah karena pak Jahal ga mungkin lagi hidup kembali jadi mending kita yang masih hidup ini yang tobat ..."
Boneng tertegun 
" Kan kita ga tau kapan meninggalnya jadi mesti siap-siap.." lanjut kang Asmu
Entah oleh sebab apa hingga kini setiap azan subuh yang biasanya dikumandangkan oleh Ujang berganti dengan suara lantang Boneng. Akhirnya Boneng menjadi lebih baik dari sebelumnya.
" Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan: yaitu kematian. Karena sesungguhnya tidaklah seseorang mengingatnya di waktu sempit kehidupannya, kecuali (mengingat kematian) itu melonggarkan kesempitan hidup atas orang itu. Dan tidaklah seseorang mengingatnya di waktu luas (kehidupannya), kecuali (mengingat kematian) itu menyempitkan keluasan hidup atas orang itu". (HR. Ath-Thobaroni dan Al-Hakim Shahih Al-Jami’ush Shaghir: no. 1222; Shohih At-Targhib, no: 3333)

Jumat, 18 November 2011

Nama untuk anak.....


Kang Asmu menikah dengan wanita yang dicintainya. Sangat susah membedakan siapa yang beruntung apakah kang Asmu yang beruntung atau wanita itu yang beruntung menikah dengan kang Asmu.hehe. Agar wanita yang jadi istrinya kang Asmu itu selamat dari gosip mending dicerita ini saya kasih nama Dadar saja ya(singkatan dari Bidadarinya kang Asmu). Yang lebih penting adalah kisah seusai kang Asmu ini mendapatkan berita bahagia pada saat pernikahannya sudah berjalan 5 bulan yakni Dadar dinyatakan hamil sebulan. Kang Asmu sangat senang sekali mendengarnya dan disetiap pengajian selalu saja membahas bagaimana impiannya untuk memiliki keturunan yang soleh dan mendoakan ketika sudah meninggal dunia kelak. 
Mbak Dadar ini sangat cantik sekali, konon untuk menikahinya kang Asmu telah merencanakan sejak Mbak Dadar ini masih menginjak bangku sekolah menengah atas. Tapi disini kang Asmu tidak akan menjelaskan bagaimana dan siapa itu mbak Dadar karena lagi-lagi untuk menjaga privasi dia.
Malam itu usai sholat isya di langgar, kang Asmu mendapati mbak Dadar sedang duduk dikursi meja makan melihat-lihat majalah khusus pakaian bayi. Kang Asmu hanya tersenyum kecut melihat itu maklum lah dengan musim pancaroba kali ini memang hasil panen tidaklah banyak, dihatinya sedih karena ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya walau itu sebenarnya masih lama, di dekatinya mbak Dadar dan duduk disampingnya.
" Masih lama kok sudah liatin ginian sih?" 
mbak Dadar agak tersipu malu dan kemudian menyalami kang Asmu dengan mencium tangannya.
" Maaf albiy, ga tau jika sudah pulang..." bergegas mbak Dadar mempersiapkan minuman untuk suami tercintanya itu namun dicegah oleh kang Asmu.
" Duduk saja bidadariku, aku tadi sudah minum ditempatnya kang Tomo..".
Akhirnya keduanya itu terlibat perbincangan mesra ( di bagian ini disensor ya,hehe)
Disela-sela itu ada topik yang menggelitik sekali.
" Albiy, jika anak kita perempuan namanya siapa ya?" tanya mbak Dadar sambil bersandar didada kang Asmu yang saat itu tampak kewalahan.
" Kalo yang perempuan biar bidadariku saja yang nentukan, tapi tebakanku anak kita itu laki-laki.." kata kang Asmu.
" Trus kalo laki-laki sapa namanya?" sahut mbak Dadar.
Kang Asmu terdiam sejenak.
" Abu saja.."
" Kok Abu aja, lanjutannya apa?"
" Ya kita liat perkembangannya saja ..."
" Maksudnya albiy?"
" Jika anak kita menjadi anak yang soleh dan berbakti kepada orang tua maka namanya Abu Bakkar, sahabat nabi yang jadi sohib plus mertua nabi.." 
" Jika anak kita besarnya menjadi orang yang menyenangkan, pelawak misalnya ?"
Kang Asmu berfikir dan kemudian tersenyum.
" Abu Nawas." 
" Tapi albiy, gimana ketika anak kita ditakdirkan menjadi anak yang jahat dan durhaka?" kata Mbak Dadar cemas.
" Yaaah apa boleh buat terpaksa namanya abu Jahal atau abu lahab.."
" Jangan sampai ya albiy karena Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Setiap bayi terlahir dalam keadaan fitrah (muslim muwahhid), namun kedua orang tuanyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nashrani atau Majusi. Sebagaimana seekor hewan melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna, adakah kamu dapati cacat padanya." kata mbak Dadar masih bersandar manja didada kang Asmu. 
" Eh kok tau?" tanya kang Asmu menggoda
" Ya kan albiy yang ceramahi aku," 
" Hehe iya, semoga kita di anugerahi anak yang soleh..."
" Oya albiy, gimana jika ternya kulit anak kita ikuti kulit albiy yang rada gelap ini...?" canda mbak Dadar sambil nyubit lengan kang Asmu.
" Abu gosok.." 
" huu albiy nih"
Mereka bercanda dan melangkah menuju kamar.. eitttt pembaca hanya boleh sampai sini ya,hehe
Tengah malamnya, kang Asmu dibangunkan oleh mbak Dadar untuk sholat tahajjud. Usai sholat kang Asmu bertanya pada istri tercintanya.
" Doa apa tadi ?"
" Doa agar anak kita jangan sampai menjadi abu Jahal.."
" Hehe...." kang Asmu mencium kening istrinya dan bersama-sama mereka mengucapkan Aminnnn..

Kamis, 17 November 2011

Jawa dan Islam



Pagi hari sekitar jam 8 Binti pergi belanja sayuran dipasar, sambil beli sayuran dia juga mendapatkan pesanan dari ibunya untuk beli kalender karena kalender yang dirumah robek. Nah pada saat membeli kalender itulah muncul kebingunan Binti tentang tanggalan jawa yang selalu ada disetiap kalender. Saat jalan pulangnya itu dia bertemu dengan Asmu yang kebetulan juga baru berbelanja bersama ibunya. Mereka janjian ketemu nanti siang. Binti memang hari itu mau berkunjung bersama Husnul kerumah  baca milik Asmu. 
Siang itu Binti memang kesana namun sendirian berbincang dengan Asmu di rumah baca miliknya Asmu untuk membahas masalah kalender tadi. Binti yang saat itu mengenakan jilbab warna cokelat memang terlihat anggun dan membuat asmu malu untuk berlama-lama memandangnya. Asmu sendiri adalah pemuda kampung yang bertampang super biasa dan tidak istimewa, buktinya disekolah dulu hanya sedikit yang yang mengaguminya,hehe malah curhat. Back to story..
“ kebudayaan jawa itu kok banyak yang menyamarkan islam ya?” binti mengawali bincang-bincang mereka.
Oya asmu dan binti tidak sendiri di rumah baca itu namun disekeliling mereka ada beberapa anak yang sedang belajar kelompok, karena ruangan luas mirip pendopo itu lumayan jadi asmu dan binti yang duduk lesehan di depan tidak mengganggu anak-anak SMP itu.
“ maksudnya piye??” asmu heran
“ ya aku perhatikan nama hari dan bulannya ada yang terkesan sama dan ada yang malah berbeda..”
Asmu tersenyum mendengarkan itu..
“ sebelum Binti banyak menyalahkan mending aku jelaskan dulu deh. Mau?”
Binti menggeleng tertawa..
“ mau mau mauuu…” ucapnya.
“ nama-nama hari dalam tahun jawa, diserap dari bahasa arab Cuma dengan ucapan lidah jawa. Dari arabnya adalah wakhid, isnain, tsalasa, arba’a, khamsa, jum’at, dan sabat mampir ke lidah orang jawa menjadi ahad, senen, seloso, rebo, kemis, jemuwah dan setu. " 
Binti merubah posisi duduknya dan kembali menyimak penjelasan Asmu. Asmu  kemudian menjelaskan.
" nah untuk nama-nama bulan juga menyerap kalender hijriah. ada beberapa bulan yang langsung dipake secara langsung tanpa dirubah dan beberapa lagi berubah total.." Asmu berfikir sejenak seperti berusaha mengingat. Binti menunggunya.
" bulan safar menjadi sapar, jumadil awwal jadi jumadilawal, jumadil akhir jadi jumadilakir, rajab jadi rejeb, syawwal menjadi sawal...itu yang tidak berubah namun menyesuaikan lidah jowo...seperti huruf 'ain tu kan banyak yang baca ngain..." Asmu berhenti.
" teruuuuusss???" Binti tidak sabar.
" kemudian ada bulan yang tidak secara langsung menyerap aslinya namun mengambil peristiwa penting dibulan tersebut,...dan ini ada 3 bulan yakni muharram  menjadi asyura atau suro karena dibulan tersebut pernah ada kejadian 10 asyura yakni peristiwa cucu nabi Hasan dan Husein." 
" itu kan baru satu, trus yang lainnya?"
" rabiul awwal menjadi mulud, karena peristiwa kelahiran nabi disebut maulud. nah supaya lebih gampang usai rabiul awwal jadi mulud maka rabiul akhir menjadi bakda mulud, gitu aja kok repot.." sambil meniru gaya Gusdur Asmu tertawa dan dibarengi Binti.
disaat mereka berdua mau melanjutkan cerita, Husnul datang. Setelah memarkir motornya disebelah motor Binti dia masuk kerumah baca.
" Assalamualaikumm..." sapanya dengan ceria.
Husnul juga merupakan sahabat akrab Asmu seperti Binti juga. mereka kerap berkumpul dulu ketika masih sekolah. Selain cantik, husnul juga termasuk wanita yang menyenangkan jika dipandang. 
" ayo ngobrolin aku ya??" ucapnya sambil bersalaman dengan Binti dan duduk disampingnya.
" ngga nih, lagi ngobrol saja..." kata Binti. ( kembali Binti menjelaskan ulang pembicaraannya dengan Asmu yang saat itu izin sebentar kedalam rumah dan tepat saat Binti selesai bercerita Asmu datang membawa 2 piring berisi singkong goreng yang masih panas untuk anak-anak yang belajar kelompok dan mereka bertiga).
" lanjut dunk ceritanya..!!" Binti dan Husnul bersamaan. 
Asmu memasukkan potongan singkong goreng kemulutnya dan mengunyahnya. hawa panas singkong itu membuat mulut Asmu mengeluarkan asap. 
" untuk bulan ramadhan itu karena pada bulan ini umat islam menjalankan ibadah saum/shiam. Nah karena bahasa Sansekerta dulu masih dipakai dan untuk membahasakan ibadah menahan diri itu disebut upawasa maka jadilah pasa menggantikan nama Ramadhan. pasa atau poso.." terang Asmu.
Husnul membetulkan letak jilbabnya dan bertanya..
" nah tu bulan sya'ban kok jadi ruwah..kenapa?" tanyanya.
" oh itu, itu diawali dengan kepercayaan masyarakat jawa yang banyak diwarnai oleh kepercayaan jawa kuno(animisme dan dinamisme) serta kebudayaan hindu dan budha. saat melakukan ibadah puasa yang terkesan perbuatan yang berat sehingga memerlukan kesiapan yang prima lahir dan batin. Dalam hal inilah orang jawa selalu membutuhkan bantuan kekuaran dari alam lain seperi restu dari orang tua yang meninggal atau nenek leluhurnya. itu sebabnya sat ramadhan mereka sebut ruwah yang berasal dari kata arwah. Jangan heran dibulan ruwah ini banyak orang-orang ramai berziarah dan menabur bunga. "

" o gitu to ceritane...." kata Binti mulai memahami.
" iya gitu tu ceritanya...ga ada yang menyeleweng kan...hanya penamaannya saja yang berbeda..." terang Asmu.
Husnul sepakat dengan Asmu.
" ada dua yang tertinggal yakni dzulqai'dah dan Dzulhijjah.." seru Binti.
" eh iya,,,Dzul Qa'idah menjadi selo/sela karena bulan ini terjepit antara dua hari raya. Sela kan artinya diantara atau di apitan. Oleh masyarakat jawa lebaran 1 syawwal ini hari raya yang biasa saja akan tetapi pada tanggal 10 Dzulhijjah dianggap bulan yang besar karena didalamnya berkorban hewan yang artinya makan besar-besaran. oleh karena itu Dzulhijjah dinamakan besar." 
penjelasan Asmu dimengerti oleh Binti dan Husnul.
Mereka kemudian menyantap singkong goreng itu sambil terus bercerita dan samar-samar terdengar suara Asmu menjelaskan kesimpulannya..
" jadi banyak tradisi yang sebenarnya tidak bertentangan dengan islam namun dipahami salah oleh sebagian orang. Muludan, Tasyakuran adalah salah satu hal yang positif."
Mereka berbincang hingga azan asar terdengar, Asmu meninggalkan Binti dan Husnul yang asyik berbincang untuk melakukan sholat. 


Rabu, 02 November 2011

Kampus IKIP PGRI kalimantan timur


logo IKIP PGRI Kalimantan Timur

logo Fakultas Pendidikan Kepelatihan Olahraga
logo fakultas Pendidikan Ekonomi 
ruang kelas dan gedung serba guna 

ruang kelas lainnya...
pada saat melakukan PPL ( ajarkan olahraga dengan suasana yang menyenangkan)


salah satu tempat nyantai,hehe
selalu kompak dengan sesama 


Bapak Mursalim Lacci, MPd ...tawarannya menggiurkan namun pengabdian di kampung halaman lebih di utamakan.
saat kemping

berpetualang menyusuri 3 air terjun di desa Perjiwa, Tenggarong 



membantu sesama teman,hehe

Softball

karate juga


Senin, 31 Oktober 2011

Idul Adha dan cara memperingatinya


IBADAH QURBAN 
Memaknai makna yang terkandung di dalamnya.
  
Idul Adha mempunyai nama beragam mulai dari lebaran haji, lebaran Qurban dan sebagainya. Setiap tahun dirayakan dan diperingati oleh seluruh umat dengan berbagai cara. Ibadah haji adalah yang utama dibulan Dzulhijjah ini. Di Indonesia ketika bulan haji ini maka sangat sibuk sekali dengan banyaknya yang melakukan ibadah haji ke tanah suci. Indonesia selalu tercatat sebagai penyumbang jamaah haji terbanyak. jika kita perhatikan secara mendalam hal ini sangat positif sekali karena dengan biaya perjalanan haji yang mahal itu menggambarkan bagaimana sejahteranya masyarakat. Namun hal itu ternyata tidak demikian karena setelah kita perhatikan kondisi masyarakat tidaklah seperti yang dibayangkan. Rakyat miskin makin bertambah, pengangguran melimpah dan tingkat kejahatan yang timbul karena masalah ekonomi. Banyaknya jamaah haji dari indonesia itu ternyata banyak yang merupakan jamaah yang telah melaksanakan haji berkali-kali. Hal ini perlu menjadi catatan apa latar belakang banyak masyarakat yang melaksanakan haji berkali-kali apakah karena murni ibadah, menambah gengsi, atau berbagai motif alasan lainnya. Ketika melihat banyaknya kemelaratan di masyarakat maka fenomena haji berkali-kali ini adalah suatu hal yang sangat menyedihkan. Ibadah haji berkali-kali bukanlah perilaku nabi yang nyatanya tidak melakukan haji berlebihan. Harta yang dipergunakan untuk kemaslhatan atau membantu lingkungan sekitar itu lebih baik daripada melakukan haji berkali-kali. Cukuplah ibadah haji sekali atau dua kali dan kemudian setelah itu hartanya dipergunakan untuk memberi manfaat kepada yang sesama. Hal inilah yang kiranya diidamkan masyarakat kepada yang berhaji sekian kali itu. Tunaikan rukun islam secara sempurna bukan hanya yang 5 saja. Semoga haji mabrur diperoleh kepada hamba Alloh yang sadar akan makna ini.
Bacalah  firman Alloh SWT dalam Surah Al Hajj ayat 37, yang menerangkan bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Alloh SWT karena yang sampai hanya ketakwaan para pelaku kurban yang bersangkutan, maka kesan pertama yang kita tangkap dari firman Alloh adalah ibadah kurban dengan menyembelih ini merupakan simbol ketakwaan dan loyalitas kepada Alloh. Karenanya melakukan ibadah kurban akan lebih bermakna apabila dibarengi dengan penghayatan terhadap pesan-pesan yang terkandung dalam ibadah itu. Meski ibadah kurban ini udah berumur tua sejak kurban antara Habil dan Qabil namun ibadah kurban ini adalah pelestarian ajaran yang pernah dilakukan Ibrahim As dan putranya Ismail As.
Perintah Alloh kepada Ibrahim agar beliau menyembelih putranya Nabi Ismail adalah sangat tidak masuk akal. Betapa tidak seorang ayah yang sudah berusia sekitar satu abad belum juga dikaruniai putra, begitu dikaruniai lalu diperintahkan untuk menyembelih putranya yang sangat disayanginya. Akal manusia mana yang dapat menerima perintah seperti ini ? karenanya upaya memahami pesan spriritual yang terkandung dalam perintah itu tidak dapat dilakukan melalui pendekatan akal. Jika dipaksakan maka hasilnya akan menyimpang dari kebenaran. Bahkan akan timbul tuduhan bahwa ayat itu perlu dipertimbangkan kembali karena tidak rasional.
Islam memang mendudukkan akal manusia dan menghargai perannya, sehingga banyak aturan-aturan dalam Islam yang sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia dan ini merupakan hubungan yang bersifat horizontal antar manusia, namun dipihak lain di dalam Islam juga terdapat aturan-aturan yang tidak dapat dipahami oleh akal manusia, aturan ini umumnya mempunyai dimensi vertikal langsung antara manusia dengan Alloh saja.
Perintah Alloh kepada Ibrahim As menyembelih putranya ini memiliki dimensi vertikal. Namun bukan berarti perintah ini tidak mempunyai makna, justru disinilah letak makna perintah itu apabila kita pahami dengan pendekatan imani.
Janggal ya kok Nabi Ibrahim dan Ismail  itu masih perlu di uji loyalitasnya kepada Alloh, bukankah mereka manusia pilihan Alloh yang tidak diragukan lagi imannya. Namun kejanggalan itu akan hilang manakala kita memahami bahwa kehadiran para Nabi di dunia ini antara lain dalam rangka memberikan contoh bagaimana manusia harus taat kepada Alloh dan sabar dalam menerima ujian-ujian hidup.
Nabi aja masih diuji loyalitasnya apalagi manusia seperti kita yang seharusnya di uji loyalitas dan kesabarannya. Tetapi Nabi itulah yang paling pedih ujian-ujian hidupnya. Semakin tinggi imannya semakin berat pula cobaan-cobaan guna menyakinkan loyalitas keimanannya kepada Alloh. Walau tidak selamanya orang yang selalu ditimpa musibah itu orang yang paling beriman dan mesti tinggi kesetiaannya kepada Alloh.
Selain sebagai simbol kesetiaan Kepada Alloh, di dalam kurban itu juga terdapat simbol ketauhidan. Di Jaman jahiliah orang-orang musyrik cenderung mengkultuskan hewan-hewan tertentu. Di surah Al Maidah ayat 103 telah disinggung tentang hal itu dan oleh karenanya di perbaikilah pemahaman itu dengan adanya surah Al Hajj ayat 28 dan 36, Alloh berfirman, “ Maka makanlah daging-daging binatang ternak itu dan berikanlah (untuk dimakan) orang yang memerlukan dan orang fakir”. Oleh karena itu menyembelih dan mengkonsumsi binatang-binatang itu merupakan bagian dari ibadah yang tidak dapat diganti dengan yang lain.

Dulu juga anak adalah dianggap keindahan kehidupan dunia dalam keluarga dan harta juga pada masa lalu selalu dilukiskan dengan binatang. Padahal Alloh telah banyak menegaskan bahwa anak dan harta hanyalah hiasan dunia serta ujian saja. Ini terekam dalam Al Kahfi 46 dan Al Anfal ayat 28. Manusia hendaknya menjadikan anak dan harta itu sebagai sarana untuk mencari keridhaan Alloh bukan untuk dijadikan impian, didewakan bahkan sebagai sesuatu yang di idam-idamkan.
Nabi Ibrahim adalah sosok manusia yang mampu memenangkan kepentingan Alloh atas kepentingan dirinya sendiri. Maka sangat wajar jika keberhasilan Nabi Ibrahim dan Ismail dalam mendahulukan perintah Alloh dijadikan sebagai salah satu syariat Islam karena itu agar bisa di dapat pesan-pesan moralnya tadi.
Ibadah kurban dengan hari raya Idul Adha yang datang setiap tahun sebaiknya janganlah menjadi upacara rutinitas saja, melainkan hendaknya dapat menjadikan kita seperti Ibrahim dan Ismail yang telah mampu mendahulukan kepentingan Alloh atas kepentingannya sendiri. Bila tidak, kita hanya akan mengumandangkan kalimat Allohu Akbar dimana-mana saat Idul Adha, tetapi dalam perilaku hidup sehari-hari kita justru mengecilkan  dan menyepelekan segala perintah-Nya. Mari kita renungi untuk apa kita hidup di dunia ini dan di edisi pertama telah di jelaskan bahwa kita semua manusia ini di ciptakan hanya untuk mengabdi (beribadah) kepada Alloh. Karena Alloh SWT berfirman
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).
Semoga bermanfaat untuk penulis dan pembaca, Aminn.

Selasa, 18 Oktober 2011

Memahami Makna Taubat


Tulisan ini saya awali dengan terjemahan sebuah ayat suci Al Qur'an.
Allah SWT berfirman : “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih” (QS.15 Al Hijr 49-50).
Ada dua pengertian yang paradox bisa kita tangkap dari ayat tersebut, yaitu : 
Pertama, siksa dan azab Allah SWT sangat pedih. 
Kedua, Allah SWT sangat Pengasih dan Penyayang lebih daripada siapa saja yang berhati kasih sayang, dan pasti akan mengampuni dosa-dosa hamba-Nya betapapun besarnya jika ia mau bertaubat.
Dan ini yang paling dominan dalam ayat tersebut, karenanya didahulukan penyebutannya, apalagi kalau dilihat dari asbabun nuzulnya, yaitu : “Rasulullah SAW melewati sekelompok sahabatnya yang sedang tertawa ber­sen­da gurau, beliau menegurnya :“Kalian tertawa dan menyebut-nyebut sorga, padahal neraka berada di depan kalian ?”, Kemudian datanglah Jibril dan berkata : Wahai Muhammad sungguh Allah SWT berfirman : “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku bahwa sesungguhnya Aku yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang …”.
Ayat tersebut memberikan optimisme dan harapan kepada kita, bahwasanya tidak ada dosa betapapun besarnya – kecuali syirik – yang tidak akan terampuni jika kita mau bertaubat, apalagi penjelasan dan janji Allah ter­sebut diperkuat oleh hadits-hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW, seperti, artinya : “Ketika Allah menciptakan makhluk. Ditulisnya sebuah tulisan di atas singgasana-Nya : sungguh rahmat-Ku mendahului kemarahan-Ku. Dalam sebuah riwayat disebutkan : Sungguh rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku”
Sesuai dengan firman Allah
قُلْ لِّمَنْ مَّا فِي السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضِ قُلْ ِللهِ كَتَبَ عَلَى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ َ , artinya : “Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang …” (QS.6 Al-An’am 12).
Jadi, salah dan dosa adalah sesuatu yang wajar terjadi, dan itu dengan tegas disampaikan oleh Rasulullah SAW sebagaimana dalam hadits di bawah ini yang artinya : “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kalian semua tidak ada yang berbuat dosa, niscaya kalian semua akan dibinasakan kemudian akan diciptakan suatu bangsa yang berbuat dosa, tapi, kemudian mohon ampun kepada Allah SWT, dan Allah mengampuni mereka” (HR. Muslim).
Hadits di atas menyadarkan kita, bahwa dosa adalah sesuatu yang wajar terjadi, yang terpenting adalah upaya menyadari kesalahan dan bertaubat.
Rasulullah SAW bukan hanya bisa menyuruh, tapi beliau juga memberi contoh dan melakukannya, sebagaimana hadits ini
يَآأيُهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلىَ اللهِ فَإِنِّي اَتُوْبُ إِلَيْهِ ِفي الْيَوْمِ مِأَتَة مَرَّة , artinya : “Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah, sungguh saya bertaubat kepada-Nya seratus kali setiap harinya” (HR. Muslim). “Karenanya, yakinlah bahwa Allah SWT pasti mengampuni dosa-dosa kita dengan rahmat dan belas kasih-Nya, dan itu modal masuk surga”.
Sampai di sini kita bisa memahami bahwasanya taubat dan harapan adalah semisal pelampung dan timah pemberat. Pelampung agar kita tidak tenggelam kedalam kepesimisan dan keputus-asaan, sementara timah pemberat akan menyelamatkan kita dari kesombongan yang itu adalah bentuk lain dari dosa dan kemaksiatan, dan dengan kesombongan membuat Iblis terlaknat selamanya. Untuk itu Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sebuah sabdanya, yang artinya : “Amal seseorang tidak akan mengantarkannya masuk surga, tidak Anda ya Rasulullah ? Kata sahabat. Beliau menjawab : tidak juga saya, kecuali Allah meliputi dan memenuhiku dengan ampunan dan rahmat” (Muttafaq alaih).
Ya Allah, semoga Engkau ampuni Dosa-dosa kami dan terimalah ibadah kami, kemudian masukkanlah kami ke dalam surga-Mu dengan rahmat dan kasih sayang-Mu, karena sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi sangat Penyayang lebih dari siapa saja yang berhati pengasih dan penyayang. Amin

Selasa, 11 Oktober 2011

kajian orientalis dalam studi hadist



Dalam Kamus Bahasa Indonesia orientalisme adalah ilmu pengetahuan tentang ketimuran atau tentang budaya ketimuran. Sementara itu dalam buku " Pembahasan Tentang Misionarime dan Orientalisme " karangan Dr. Hasan Abdur Rauf, disebutkan bahwa kata ‘Orientalisme’ secara umum diberikan kepada orang-orang non-Arab yang mempelajari ilmu-ilmu tentang ketimuran, baik itu dari segi bahasa, agama, sejarah, dan adat istiadatnya. Orang yang mempelajari ilmu itu disebut Orientalis. Khususnya orang-orang yang mempelajari tentang dunia Arab, China, Persia dan India. 
Dr. Hasan Abdul Rauf memberi batasan bahwa sebutan Orientalis diberikan kepada setiap ilmuwan Barat yang mempelajari segala sesuatu tentang ketimuran. Utamanya, istilah Orientalis diberikan kepada orang-orang Nasrani yang ingin mempelajari ilmu-ilmu Islam dan bahasa Arab.
Orientalisme yang pada awalnya adalah salah satu kajian keilmuan yang tergabung di dalam ilmu Antropologi, memiliki tujuan yang sama dengan ilmu induknya tersebut yaitu untuk mempelajari kebudayaan lain agar bisa menemukan kebudayaan terbaik yang bisa dijadikan kebudayaan percobaan bagi seluruh dunia.

Hal ini kemudian berkembang , antropologi kemudian berubah menjadi sebuah kajian keilmuan dari sebuah bangsa yang mapan terhadap kebudayaan luar. Karena masyarakat merasa mereka lebih berbudaya daripada masyarakat oriental (timur), baik itu timur jauh, timur tengah, timur selatan. Meliputi semua hal budaya, adat, norma dan juga agama-agama masyarakat timur.
Di dalam salah satu bukunya, Orientalism, Edward Said mengatakan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh para orientalis dalam meneliti agama Islam, khususnya hadis, bukanlah pekerjaan yang murni ilmiah tanpa mempunyai maksud, artinya mereka memiliki tujuan tertentu dengan meneliti agama Islam sedemikian rupa. Tujuan itu antara lain adalah mencari kelemahan Islam dan kemudian mencoba menghancurkannya pelan-pelan dari dalam. Walaupun tidak semua orientalis memiliki tujuan seperti itu paling tidak itu adalah sebuah anomali dari sekelompok orang yang boleh dikata memiliki persentase sangat kecil. 
Mereka memilih hadis dalam upayanya untuk menyerang umat islam karena kedudukan hadis yang sangat penting dalam kehidupan kaum muslim. Hadis adalah sumber hukum kedua setelah Al Qur'an sekaligus juga sebagai penjelas dari Al Qur'an itu sendiri. Mereka lebih memilih menyerang hadis ketimbang Al Qur'an, karena hadis hanyalah perkataan manusia yang bisa saja mengandung kesalahan dan unsur-unsur negatif lainnya. Mereka sulit untuk mencoba mendistorsikan Al Qur'an karena Al Qur'an adalah sumber transendental dari Tuhan yang telah terjamin dari semua unsur negatif.


 
Inilah dua tokoh orientalis yang meragukan kesahihan hadis. Joseph Schacht dan Ignaz Goldziher.

Ada tiga hal yang sering dikemukakan orientalis dalam penelitian mereka terhadap al-Hadis, yaitu tentang para perawi hadis, kepribadian Nabi Muhammad SAW, metode pengklasifikasian hadis :

  1. Aspek Perawi. Para orientalis sering mempertanyakan tentang para perawi yang banyak meriwayatkan hadis dari rasulullah. seperti yang kita ketahui bersama para sahabat yang terkenal sebagai perawi bukanlah para sahabat yang yang banyak menghabiskan waktunya bersama rasullah seperti Abu bakar, Umar, Usman dan Ali. Namun yang banyak meriwayatkan hadis adalah sahabat-sahabat junior dalam artian karena mereka adalah orang “baru” dalam kehidupan rasulullah. Dalam daftar sahabat yang banyak meriwayatkan hadis tempat teratas diduduki oleh sahabat yang hanya paling lama 10 tahun berkumpul dengan Nabi, seperti Abu hurairah, Sayyidah Aisyah, Anas bin malik, Abdullah ibn Umar dll. Abu hurairah selama masa 3 tahun dia berkumpul dengan Nabi telah berhasil meriwayatkan lebih dari 5800 hadis, Sayyidah Aisyah mengumpulkan lebih dari 3000 hadis dan demikian juga dengan Abdullah ibn Umar, Anas.
  2. Aspek Kepribadian Nabi Muhammad SAW. Tidak cukup dengan menyerang para perawi hadis, kepribadian Nabi Muhammad juga perlu dipertanyakan. Mereka membagi status nabi menjadi tiga sebagai rasul, kepala negara, dan pribadi biasa sebagaimana orang kebanyakan. Bahwa selama ini hadis dikenal sebagai segala sesuatu yang dinisbatkan kepada Nabi Muhammad baik perbuatan, perkataan dan ketetapan beliau juga perlu direkontruksi ulang. Sesuatu yang berdasarkan dari Nabi baru disebut hadis jika sesuatu tersebut berkaitan dengan hal-hal praktis keagamaan, karena jika tidak hal itu tidak layak untuk disebut dengan hadis, karena bisa saja hal itu hanya timbul dari status lain seorang Muhammad.
  3. Aspek Pengklasifikasian hadis. Sejarah penulisan hadis juga tidak lepas dari kritikan mereka. Penulisan hadis yang baru dilakukan beberapa dekade setelah Nabi Muhammad wafat juga perlu mendapat perhatian khusus. Hal itu, lanjut mereka, membuka peluang terhadap kesalahan dalam penyampaian hadis secara verbal, sebagaimana yang dikatakan oleh Montgomerywatt,salah seorang orientalis ternama saat ini: "Semua perkataan dan perbuatan Muhammad tidak pernah terdokumentasikan dalam bentuk tulisan semasa Ia hidup atau sepeninggalnya. Pastinya hal tersebut disampaikan secara lisan ke lisan, setidak-tidaknya pada awal mulanya. Hal itu diakui ataupun tidak sedikit banyak akan mengakibatkan distorsi makna, seperti halnya dalam permainan telpon-telponan anak kecil".
Hal diatas adalah sebagian dari pemikiran Orientalis tentang Islam , lebih spesifik lagi tentang hadis. Hal itu sedikit banyak bisa memberikan pemahaman dan wacana baru bagi kita agar kita bisa melihat hadis, sesuatu hal berharga yang kita punyai tidak hanya dengan pandangan dan penilaian kita tapi juga dengan sisi pandang orang lain, yang boleh jadi akan lebih objektif dari kita. kita harus berterima kasih kepada mereka karena telah meneliti kehidupan kita, sehingga kita bisa mengambil hasil penelitian mereka sebagai bahan koreksi dan pembelajaran bersama, terlepas dari niat-niat buruk dari sebagian mereka.
Sarjana barat yang pertama kali melakukan kajian Hadis adalah Ignaz Goldziher, seorang orientalis Yahudi kelahiran Hongaria yang hidup antara tahun1850 - 1921 M. pada tahun 1890, ia mempublikasikan hasil penelitiannya tentang Hadis dalam sebuah buku yang berjudul Muhammedanische Studien (Studi Islam). Dan sejak saat itu hingga sekarang, buku tersebut menjadi "kitab suci" di kalangan orientalis.
Dibanding dengan Goldziher, hasil penelitian Schacht memiliki "keunggulan", karena ia bisa smpai pada kesimpulan yang meyakinkan bahwa tidak ada satupun Hadis yang otentik dari Nabi Muhammad, khususnya Hadis-hadis yang berkaitan dengan hukum-hukum Islam. Sementara Goldziher hanya sampai pada kesimpulan yang meragukan adanya otentisitas Hadis. tidak aneh jika kemudian buku Schacht memperoleh reputasi dan sambutan yang luar biasa.
Baik Ignaz maupun Schacht, keduanya tidak berbicara tentang otoritas Hadis sebagai sumber hukum dalam Islam. Karena keduanya telah sepakat bahwa Hadis tidak memiliki otentitas sebagai sebuah ajaran yang bersumber dari Nabi Muhammad, padahal Hadis dapat menjadi sumber ajaran Islam, ketika ia otentik dari Nabi, sehingga tidak mungkin Hadis dapat digunakan sebagai sumber ajaran Islam.  
Keduanya justru membuat kiat-kiat yang dapat dipergunakan sebagai pendukung hasil penelitian mereka; Bahwa apa yang disebut sebagai Hadis, bukanlah sesuatu yang otentik dari Anbi Muhammad. Setidaknya ada tiga kiat-kiat digunakan, guna menyokong pendapat mereka:


  1. Mendistorsi teks-teks sejarah. Semisal tuduhan Goldziher terhadap Imam Ibn Syihab al-Zuhri (w. 123 H.). menurutnya Imam al-Zuhri telah melakukan pemalsuan Hadis, dan ia juga mengubah teks-teks sejarah yang berkaitan dengan Ibn Syihab al-Zuhri, sehingga menimbulkan kesan bahwa Imam al-Zuhri memang mengakui dirinya sebagai pemalsu Hadis. Menurut Goldziher, al-Zuhri pernah berkata, inna haula'I al-umara akrahuna 'ala kitabah ahadist (para penguasa itu memaksa kami untuk menulis Hadis). kata 'ahadist' dalam kutipan Goldizer tidak menggunakan artikel "al" (al-ahadist) yang dalam bahasa Arab memiliki makna definitif (ma'rifah), sementara dalam teks yang asli, yang merupakan ucapan Imam Ibn Syihab yang sebenarnya, seperti yang terdapat dalam kitab Ibn Sa'ad dan Ibn 'Asakir, adalah 'al-ahadist' yang berarti Hadis-hadis yang telah dimaklumi secara definitif, yaitu Hadis-hadis yang berasal dari Nabi Muhammad.
  2. Membuat teori-teori rekayasa. Bahwa untuk memperkuat tuduhannya yang menyatakan bahwa apa yang disebut Hadis adalah bukan sesuatu yang otentik dari nabi Muhammad, melainkan hanya merupakan bikinan para ulama abad pertama dan kedua, Schacht membuat teori tentang 'rekonstruksi' terjadinya sanad Hadis. teori ini dikemudian hari dikenal sebagai teori Projecting Back (proyeki ke belakang). Menurut Schacht, jurisprudensi Islam belum eksis dan permanen pada masa al-Sya'by (w. 110 H.). Hal ini artinya bahwa apabila terdapat Hadis-hadis yang berkaitan dengan hukum Islam, maka sejatinya Hadis-hadis tersebut merupakan buatan orang-orang yang lahir  dan hidup sesudah al-Sya'bi. Schacht berpendapat bahwa jurisprudensi Islam baru dikenal sejak masa pengangkatan para qadhi (hakim agama), yang baru diadakan pada dinasti bani Umayah.
  3. Ketiga melecehkan Ulama Hadis, di mana kiat para orientalis selanjutnya adalah melecehkan kredibilitas ulama Hadis, sembari menuduh mereka sebagai pemalsu. Banyak ulama yang mereka sorot dan menjadi sasaran pelecehan ini, antara lain Shahabat Abu Hurairah (w. 57 H.), Imam Ibn Syihab al-Zuhri (w. 123 H.), dan Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari (w. 256 H.).
Tiga tokoh tersebut menjadi sasaran pokok serangan para orientalis karena ketiganya menempati posisi-posisi yang strategis dalam kajian ilmu Hadis; Abu Hurairah adalah Shahabat yang tercatat sebagai shahabat yang paling banyak meriwayatkan Hadis dari Nabi Muhammad. Dan al-Zuhri disebut-sebut sebagai orang yang pertama kali membukukan Hadis. sementara al-Bukhari adalah tokoh yang menulis kitab paling otentik sesudah al-Quran, yaitu kitab Shahih al-Bukhari.



Kalau ada diantara orientalis yang pernah berusaha menciptakan metode kritik hadits, maka sudah bisa dipastikan arahnya, yaitu untuk menjegal metodologi yang selama ini ada. Dengan demikian akan terjadi perubahan besar dalam hukum-hukum Islam akibat dari berubahnya hadits shahih menjadi maudhu` atau yang maudhu` malah menjadi shahih


Dan akibat yang akan ditimbulkan sudah bisa anda bayangkan juga. Nantinya syariah Islam akan berubah 180 % derajat. Sesuatu yang haram bisa jadi halal dan yang halal bisa jadi haram. Bahkan zina, khamar, judi, mut`ah, mencuri dan segala kemungkaran menjadi halal. Dan sebaliknya, jilbab, qishash, hudud dan menegakkan hukum Islam menjadi terlarang. Karena haditsnya telah berubah status. Dan perubahannya itu ditentukan oleh para orientalis. Dalam hal ini seorang pemuda asal India berhasil membalikkan pemikiran yang keliru dari para orientalis yang mengkritisi hadis yakni Muhammad Mustafa Al A'zami dengan desertasi " Studies in Early Hadith Literature" pada tahun 1966 di Universitas Cambridge, Inggris. Temuan naskah kuno hadis abad pertama hijriah dan analisis desertasi itu secara argumentatif menunjukkan bahwa hadis betul-betul berasal dari Nabi Muhammad Saw. Bahkan sebelum kemunculan karya dari A'zami tersebut telah ada karya dari Mustafa As Siba'i dalam bukunya " Assunnah wakannatuha "
 
Syaikh Mustafa As Siba'i dan Syaikh M.M. Al A'zami



Daftar pustaka
M.M Azami, menguji keaslian hadits-hadits hukum. Jakarta:Pustaka Firdaus, 2004

http://moenawar.multiply.com/journal/item/5. diakses pada tanggal 5 Oktober 2011
Ali Mustafa Yaqub, Kritik hadis. Jakarta : Pustaka Firdaus, 1994
Edward said, Orientalism. 1978, pinguin press. London